rini's posts with tag: rohani

What are tags? You can give your posts a "tag", which is like a keyword. Tags help you find content which has something in common. You can assign as many tags as you wish to each post.
View posts by people in your network with tag rohani
Blog EntrySPORTIFAug 15, '07 1:46 AM
for everyone

(Sebuah Renungan untuk kita semua, ditulis oleh Ismiradhani Setiawan)

 

SPORTIF

 

Bismillahirrahmaanirrahiim

 

Ya Allah, aku bukan orang yang bisa berlaku jujur 100%, namun ajari aku agar menjadi hamba yang bisa menegakkan sportifitas, Amiin.

 

Salam dan shalawat atas junjungan Nabi Muhammad saw, keluarga dan sahabat yang telah mengajarkan islam dan mencontohkan akhlak mulia kepada kami.

 

Apakah aku mampu bersikap sportif? apakah aku mampu menerapkan sportifitas?, jawabannya bisa kadang-kadang, bisa juga: yaaaaaa ……..bisa, bisa juga: mampu donk………

 

Seberapa jauh para orang tua mengajarkan sportifitas pada anak-anak?

 

Ada beberapa peristiwa yang diperlihatkan orang tua yang belum bersikap sportif:

1.      ketika putra/i-nya terlibat dalam suatu kasus di sekolah, orang tua sangat membela dengan mengeluarkan pernyataan bahwa anak kami anak yang baik, tidak mungkin melakukan hal yang dituduhkan. Sikap inilah yang sebenarnya kurang pas ditunjukkan oleh orang tua, lebih bijak lagi kalau orang tua menyerahkan kepada pihak sekolah untuk pengusutan lebih lanjut dan kalau putra/i-nya terbukti melakukan kesalahan, siap untuk bertanggung jawab.

 

2.      tidak memberikan pembelaan dihadapan anak, tapi berikanlah ruang untuk berlaku jujur/sportif/ksatria, beri kesempatan untuk menceritakan kronologis kejadian, mempertanggung jawabkan perbuatan yang telah dilakukan. Dan kalau terbukti melakukan kesalahan, maka orang tua harus menerima dengan lapang dada.

 

3.      ada orang tua yang menganggap wajar/biasa, ketika putra/i-nya berciuman dengan lawan jenis di sekolah (“di toilet”) dan ketangkap basah, komentar orang tua, aaah itu khan hal biasa, namanya anak remaja.

 

Sportifitas memang lebih dikatikan dalam bidang kegiatan laga/pertandingan, namun mula dari sportifitas adalah kejujuran. Bila kita tanamkan sikap jujur, Insya Allah anak-anak akan selalu sportif, berani berkata salah ketika melakukan kesalahan.

 

Dan kejujuran sangat mudah dilatih di dalam rumah, misalnya ketika ada makanan yang harus dibagi, maka semua harus bersikap jujur, tidak mengambil yang bukan haknya.

 

Jangan pernah membela sesuatu yang sudah pasti tidak benar.

 

 

Salam,
Djoko S


Blog EntryTAKDIRJul 23, '07 2:25 AM
for everyone

Assalamualaiakum warohmatullahi wabarokatuh

 

TAKDIR

 

Yang akhi dwi nanto sampaikan adalah ttg takdir.

 

Maka seorang yg bermaksiat tidak boleh mengatakan "saya mungkin ditakdirkan sebagai ahli maksiat maka anda tidak boleh menyalahkan saya" atau seorang kafir juga tidak boleh berkata, "saya ditakdirkan sebagai nasrani maka ya biarkan saja"

 

Allah telah berfirman

"Sesungguhnya Aku telah memberi petunjuk kepadanya pada jalan (yang benar), maka adakalanya dia bersyukur dan adakalanya dia kufur" [Al-Insan : 3]



maka ketahuilah bahwa tanda2 kebesaran Allah terpampang dan kaumu muslimin bisa ia lihat, dari situlah bulkankah ia memiliki mata, nurani, pikiran sehingga ia bisa menilai hingga ahirnya hidayah terkena padaanya. Allah tidak berkehendak meninggalkan hamba-hamba-Nya dalam kesesatan selama-lamanya. hujjah telah sampai kepada mereka, jalan kebenaran telah dijelaskan, lalu para rasul telah diutus kepada mereka, kitab-kitabnyapun telah diuturunkan. Juga telah dijelaskan petunjuk dan kesesatan dan mereka diberi motivasi untuk menempuh jalan petunjuk, sekaligus menjauhi jalan yang sesat.

"Allah menerangkan kepadamu supaya kamu tidak sesat" [An-Nisa : 176]

"Allah hendak menerangkan kepadamu dan menunjukkanmu kepada jalan-jalan orang yang sebelum kamu dan hendak menerima taubatmu" [An-Nisa : 26]

 

"Maka tatkala mereka berpaling dari kebenaran, Allah memalingkan hati mereka" [Ash-Shaf : 5]


Allah Azza wa Jalla juga berfirman.

"Adapun orang yang memberikan (hartanya di jalan Allah) dan bertakwa. Dan membenarkan adanya pahala yang terbaik (jannah). Maka kelak Kami akan menyiapkan baginya jalan yang mudah. Dan adapun orang-orang yang bakhil dan merasa dirinya cukup. Serta mendustakan pahala yang terbaik. Maka kelak Kami akan menyiapkan baginya jalan yang sukar" [Al-Lail :5-10]

 

Maka ketika seseorang melakukan suatu perbuatan, berarti dia melakukannya atas pilihannya sendiri dan bukan karena mengetahui bahwa Allah telah mentakdirkan perbuatan tersebut kepadanya. Oleh karena itu, sebagian ulama' mengatakan : "Sesungguhnya Qadar itu rahasia yang tertutup". Dan kita semua tidak pernah mengetahui bahwa Allah telah mentakdirkan begitu, kecuali bila perbuatan tersebut telah terjadi

 

Berdasarkan hal itu, maka seseorang tidak lagi berargumentasi  dengan Qadar untuk berbuat ma'siyat kepada Allah dan dalam kenyataannya dia memang tidak punya alasan dalam hal di atas. Allah berfirman. "(Aku telah mengutus) para rasul yang membawa berita gembira dan memberi peringatan agar manusia tidak punya alasan/argumentasi kepada Allah setelah adanya para rasul" [An-Nisa : 165]



wallahu a'lam


"Sesungguhnya kalian berada dalam perjalanan malam dan siang. Dalam umur yang terus berkurang, dengan amal yang tersimpan, dalam kematian yang akan tiba-tiba datang." (Ibnu Mas'ud r.a.)

 Ditanya Itu Pasti, Tapi Bagaimana Menjawabnya?

 Alangkah luas dunia ini. Tempat setiap kita bisa menjalani hidup dan memilih -dengan sadar- arah dan tujuan kita. Tetapi segalanya tidak berakhir disini. Tapi di sana, di akhirat kelak. Saat kita akan ditanya, apa yang telah kita persembahkan untuk kehidupan yang abadi itu?

 Menjadi hidup memang takdir, tetapi menjalani hidup secara baik adalah pilihan. Sebab toh kita akan pergi, meninggalkan dunia ini. Keyakinan itu sendiri sebenarnya menjadi sangat aksiomatis, menyatu dengan nafas kita. Tak ada yang menolak kepastian akan kematian. Tetapi menjadi sadar sepanjang waktu tidaklah mudah. Yang dengan kesadaran itu kita membekali diri dengan sebaik-baiknya.

 Itu sebabnya mengapa, diantara wasiat panjang Imam Syafi'i sebelum meninggal berbunyi, "...Aku meyakini bahwa Allah pasti akan membangkitkan mereka yang berada didalam kubur. Aku mengimani bahwa surga dan neraka adalah benar adanya, dan mengimani bahwa azab kubur, hisab, mizan, dan shirath adalah benar. Aku meyakini bahwa Allah pasti akan membalas hamba-hamba-Nya sesuai perbuatan mereka. Atas keyakinan-keyakinan demikianlah, aku hidup, mati dan dibangkitkan kelak, Insya Allah..."

 Imam Syafi'i tentu tidak sedang memulai belajar pelajaran Tauhid. Tapi ia menegaskan, betapa kesadaran itu tidak mudah. Ia harus terus diasah dan ditegaskan. Bahwa mengetahui kematian saja tidak cukup. Yang lebih penting adalah kesadaran apa yang bisa dibangun dari pengetahuan itu. Lalu dari kesadaran itu apa yang akan kita lakukan? Apa yang akan kita jawab, pada hari hisab, pada saat kita ditanya? Sebab ditanya itu pasti. Tapi bagaimana dan dengan apa menjawabnya?

 "Sesungguhnya, pada hari kiamat nanti, tidaklah bergeser kaki seorang hamba hingga ditanya tentang empat perkara. Tentang umurnya untuk apa ia gunakan, tentang ilmunya di jalan apa ia amalkan. Tentang tubuhnya untuk apa ia binasakan, dan tentang hartanya, darimana dan dijalan apa ia habiskan," begitu Rasulullah menjelaskan seperti riwayat Tarmidzi.

 Disini kita berpacu dengan waktu dan ketidakpastian. Termasuk ketidakpastian kematian. Bukan matinya yang tidak pasti tapi waktu dan saatnya yang tak pernah kita ketahui. Maka memiliki amal unggulan, adalah sebentuk usaha kita memaksimalkan bekal, ditengah keterbatasan waktu dan ketidakjelasan umur. Ini semacam upaya melakukan akselerasi dalam produktifitas. Bagaimana dengan waktu yang hanya sesaat kita bisa memiliki amal unggulan.

 Siapkah Kita Bila Ditanya : Apa Amal Unggulanmu?


Blog EntryALLAHJul 6, '07 3:12 AM
for everyone

ALLAH

 

What if ALLAH couldn’t take the time to bless us today

Because we couldn’t take the time to thank HIM yesterday ?

 

What if ALLAH decided to stop leading us tomorrow

Because we didn’t follow HIM today ?

 

What if we never saw another flower bloom

Because we grumbled when  ALLAH sent the rain ?

 

What if ALLAH didn’t walk with us today

Because we failed to recognize it as HIS day ?

 

What if ALLAH  took away the Quran tomorrow

because we would  not read it today ?

 

What if ALLAH took away HIS message

Because we failed to listen to the messenger ?

 

What if the door of the Mosque was closed

Because we didn’t open the door of our heart ?

 

What if ALLAH stopped loving and caring for us

Because we failed to love and care for others ?

 

What if ALLAH would not hear us today

Because we would not listen to HIM ?

 

What if ALLAH answered our prayers the way we answer HIS calls ?

 

What if ALLAH met our needs the way we give HIM our lives ?


Blog EntryROHANIJun 21, '07 4:32 AM
for everyone

Subject : Meredam Ketersinggungan


Salah satu hal yang sering membuat energi kita terkuras adalah timbulnya rasa ketersinggungan diri. Munculnya perasaan ini sering disebabkan oleh ketidaktahanan kita terhadap sikap orang lain.

Ketika tersinggung, minimal kita akan sibuk membela diri dan selanjutnya akan memikirkan kejelekan orang lain. Hal yang paling membahayakan dari ketersinggungan adalah habisnya waktu kita menjadi buah roh.

Efek yang biasa ditimbulkan oleh rasa tersinggung adalah kemarahan. Jika kita marah, kata-kata jadi tidak terkendali, stress meningkat, dan lainnya. Karena itu, kegigihan kita untuk tidak tersinggung menjadi suatu keharusan.

Apa yang menyebabkan orang tersinggung? Ketersinggungan seseorang timbul karena menilai dirinya lebih dari kenyataan, merasa pintar, berjasa, baik, tampan, dan merasa sukses.

Setiap kali kita menilai diri lebih dari kenyataan bila ada yang menilai kita kurang sedikit saja akan langsung tersinggung. Peluang tersinggung akan terbuka jika kita salah dalam menilai diri sendiri. Karena itu, ada sesuatu yang harus kita perbaiki, yaitu proporsional menilai diri.

Teknik pertama agar kita tidak mudah tersinggung adalah tidak menilai lebih kepada diri kita. Misalnya, jangan banyak mengingat-ingat bahwa saya telah berjasa, saya seorang guru, saya seorang pemimpin, saya ini orang yang sudah berbuat. Semakin banyak kita mengaku-ngaku tentang diri kita, akan membuat kita makin tersinggung.

Ada
beberapa cara yang cukup efektif untuk meredam ketersinggungan

Pertama, belajar melupakan

Jika kita seorang sarjana maka lupakanlah kesarjanaan kita. Jika kita seorang direktur lupakanlah jabatan itu. Jika kita pemuka agama lupakan kepemuka agamaan kita. Jika kita seorang pimpinan lupakanlah hal itu, dan seterusnya. Anggap semuanya ini berkat dari Allah agar kita tidak tamak terhadap penghargaan. Kita harus melatih diri untuk merasa sekadar hamba Allah yang tidak memiliki apa-apa kecuali berkat ilmu yang dipercikkan oleh Allah sedikit. Kita lebih banyak tidak tahu. Kita tidak mempunyai harta sedikit pun kecuali sepercik titipan berkat dari Allah. Kita tidak mempunyai jabatan ataupun kedudukan sedikit pun kecuali sepercik yang Allah telah berikan dan dipertanggung jawabkan. Dengan sikap seperti ini hidup kita akan lebih ringan. Semakin kita ingin dihargai, dipuji, dan dihormati, akan kian sering kita sakit hati.

Kedua, kita harus melihat bahwa apa pun yang dilakukan orang kepada kita akan bermanfaat jika kita dapat menyikapinya dengan tepat.

Kita tidak akan pernah rugi dengan perilaku orang kepada kita, jika bisa menyikapinya dengan tepat. Kita akan merugi apabila salah menyikapi kejadian dan sebenarnya kita tidak bisa memaksa orang lain berbuat sesuai dengan keinginan kita. Yang bisa kita lakukan adalah memaksa diri sendiri menyikapi orang lain dengan sikap terbaik kita. Apa pun perkataan orang lain kepada kita, tentu itu terjadi dengan izin Allah. Anggap saja ini episode atau ujian yang harus kita alami untuk menguji keimanan kita.

Ketiga, kita harus berempati.

Yaitu, mulai melihat sesuatu tidak dari sisi kita. Perhatikan kisah seseorang yang tengah menu ntun gajah dari depan dan seorang lagi mengikutinya di belakang Gajah tersebut.

Yang di depan berkata, "Oh indah nian pemandangan sepanjang hari". Kontan ia didorong dan dilempar dari belakang karena dianggap menyindir. Sebab, sepanjang perjalanan, orang yang di belakang hanya melihat pantat gajah.

Karena itu, kita harus belajar berempati. Jika tidak ingin mudah tersinggung cari seribu satu alasan untuk bisa memaklumi orang lain. Namun yang harus diingat, berbagai alasan yang kita buat semata-mata untuk memaklumi, bukan untuk membenarkan kesalahan, sehingga kita dapat mengendalikan diri.

Keempat, jadikan penghinaan orang lain kepada kita sebagai ladang peningkatan kwalitas diri dan kesempatan untuk mempraktekkan buah - buah roh Yaitu, dengan memaafkan orang yang menyakiti dan membalasnya dengan kebaikan.

 

Elan Sudjanamihardja

Luetticherstr.16

52064 Aachen


© 2008 Multiply, Inc.    About · Blog · Terms · Privacy · Corp Info · Contact Us · Help